NOORIMANSYAH CENTER

Berita, teknologi, komputer dan ilmu pengetahuan

Arsip untuk ‘Dalam Negeri’ Kategori

Polisi Masih Sangkal Sudah Amankan Ibrahim

Ditulis oleh opay51 di/pada 23 Juli 2009

Jakarta – Keberadaan Ibrahim masih misterius pasca peledakan bom di JW Marriott dan The Ritz-Carlton. Beragam isu pun bermunculan terkait jejak Ibrahim.

Ibrahim sempat diisukan sebagai salah satu pelaku peledakan yang ikut tewas. Namun hasil tes DNA dan rilis sketsa polisi berbicara lain.

Meski dugaan Ibrahim tewas sebagai pelaku peledakan sudah terbantahkan, wujud florist hotel ini tak kuncul terlihat. Di beberapa lokasi yang pernah ditinggalinya, juga tak ditemukan sosok Ibrahim.

Di rumah di Desa Sempora, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang bisa ditemui hanyalah istri dan anak Ibrahim. Begitu juga dengan rumahnya yang di Cililitan Kecil, Jakarta Timur. Di situ yang ada hanyalah rumah bercat putih yang sudah sarat dengan sarang laba-laba dan kecoa.

Kemudian muncul informasi bahwa Ibrahim sudah diamankan oleh polisi. Pasalnya, keberadaan Ibrahim seperti lenyap ditelan bumi ketika bom memborbardir dua hotel mewah tersebut.

Namun informasi ini dibantah oleh polisi. “Hasil DNA kan berbeda, jadi dia (Ibrahim) masih kita cari, kita lacak keberadaannya,” ujar Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak kepada detikcom, Kamis (23/7/2009).

Sulistyo membantah jika Ibrahim sudah diamankan oleh polisi. Ia juga enggan menjelaskan, sejauh apa peran Ibrahim dalam membongkar kasus ini.

“Dalam mengungkap kasus, kita telusuri dia perannya apa, apa dia eksekutor, membantu atau apa, semua akan kita telusuri,” pungkasnya.

Source : detik.com

Ditulis dalam Dalam Negeri | Leave a Comment »

Saksi Mata Ledakan Marriott dan Ritz Carlton : Saya melihat satu mayat sudah sedemikian rusak. Kalau bukan pelaku, dia dekat dengan bom

Ditulis oleh opay51 di/pada 17 Juli 2009

Saksi Mata : Jangan-jangan Ini Bom Bunuh Diri


Shock dan tidak percaya. Itulah kesan yang muncul dari Greg Woolstencroft saat menyaksikan secara langsung ledakan dahsyat kompleks hotel JW Marriott dan Ritz Hotel di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat pagi 17 Juli 2009.

Ekspatriat yang bekerja sebagai Chief Technology Officer VIVA Media Group itu kebetulan tinggal di apartemen Oakwood, yang terletak berseberangan dengan JW Marriott dan Ritz Carlton.

Dia yakin, bahwa ini adalah serangan bom bunuh diri dengan melihat dahsyatnya ledakan bom. “Saya pun menduga jangan-jangan ini adalah serangan bom bunuh diri. Saya melihat satu mayat sudah sedemikian rusak. Kalau bukan pelaku bom, mayat itu tampaknya sangat dekat dengan bom,” kata Woolstencroft saat dihubungi VIVAnews.

Saat ini dia sibuk mendokumentasikan dan mengirim sejumlah foto lokasi ledakan. Woolstencroft pun diwawancara sejumlah media asing lantaran dia termasuk saksi kunci yang bisa memberikan keterangan yang rinci atas insiden itu.

Dua korban ledakan lain di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott adalah warga Amerika Serikat dan Kanada. Keduanya awalnya dirawat di RS Jakarta. Namun korban dari Kanada dirujuk ke RSPP.

“Kami dari RS Jakarta hingga pukul 10.00 WIB sudah menerima 11 orang korban ledakan, dua orang warga asing dari Kanada dan AS. Satu warga Kanada dirujuk ke RSPP karena luka bakar untuk ditangani secara intensif,” kata Kepala Emergency RS Jakarta Binsar Ompusunggu di RS Jakarta, Jumat (17/7/2009).

“Dua orang patah tulang saat ini sedang ditangani di RS Jakarta. Sisanya luka-luka sedang dirawat dan berada dalam kondisi yang sangat baik,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pihaknya sedang melakukan observasi dengan menyiapkan cukup banyak tim dokter. “Ada dokter mata-bedah, dokter THT dan banyak lagi. Semuanya untuk merawat secara intensif korban di sini,” pungkasnya.

Saat terjadi ledakan di Marriot, para tamu hotel Ritz Carlton banyak yang tidak tahu. Suara ledakan sangat kecil karena ruang dalam hotel kedap dari suara luar. Jarak kedua hotel ini tak sampai 50 meter. Singgih, doorman Hotel Ritz Carlton, mengatakan para tamu tetap menikmati sarapan pagi di restoran hotel. Mereka seperti tak terusik. “Ada getarannya tapi suaranya kecil,” kata Singgih.
Namun ketenangan di Ritz Carlton itu mendadak lenyap ketika bom serupa meledak di hotel itu. Singgih sempat melihat kilat cahaya putih sebelum menyadari bom telah meledak. Pusat ledakan, kata Singgih, di coffee shop, 50 meter dari tempatnya berdiri. Dalam sekejap ruang dipenuhi asap putih kehitaman. “Bau belerang.” kata Singgih.

Darah berceceran. Tamu yang selamat segera panik berlari keluar. Singgih lekas membantu temannya sesama karyawan. Seorang sumber karyawan hotel mengatakan, “Ada yang kepalanya terpisah.”
Saat ini tim gegana dari kepolisian masih menyisir kedua hotel. Akses masuk ke hotel ditutup dan dijaga ketat. Laporan sementara sembilan orang tewas dan puluhan terluka. Para korban saat ini telah dievakuasi ke beberapa rumah sakit.

Source : vivanews.com, tempointeraktif.com & detik.com

Ditulis dalam Dalam Negeri | Bertanda: , , , , , | 1 Komentar »

Orang Tua Murid di Depok Keluhkan Biaya Buku Pelajaran

Ditulis oleh opay51 di/pada 16 Juli 2009

Sejumlah orang tua murid di SDN Cipayung 1, Jalan Bonang Raya 15, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, mengeluhkan biaya buku pelajaran yang mahal.

Nursidah, 39 tahun, warga Kampung Benda, Cipayung, mengaku harus mengeluarkan biaya hingga Rp 400 ribu untuk membeli satu paket buku untuk anaknya yang duduk di kelas 2. Satu paket terdiri dari 11 buku pelajaran dan Lembar Kerja siswa (LKS).

Padahal, ia pernah mendengar dari temannya jika harga buku di SD lain nominalnya tidak setinggi itu. “Ada orang tua murid yang anaknya di SD Cipayung 2 hanya bayar 150 ribu untuk satu paketnya,” jelas Nursidah kepada Tempo di halaman sekolah, Kamis (16/7).

Ia juga mengeluh pengambilan buku pelajaran yang harus dilakukan di rumah guru Tata Usaha (TU). Selain itu, pihak sekolah juga tidak pernah memberitahu nama penerbit buku-buku tersebut. “Kalau kita tahu penerbitnya, kita kan bisa beli di luar,” ujar dia.

Sementara itu, salah seorang orang tua murid yang enggan menyebutkan namanya mengatakan jika tahun lalu ia sempat mendengar ada kejadian anak yang tidak mendapatkan nilai karena tidak menggunakan buku dari sekolah.

Kepala sekolah SDN Cipayung 1, Royadi, membantah jika pihak sekolah memaksa orang tua murid untuk memebli buku ke sekolah. “Kita tidak pernah menjual buku ataupun memaksa. Kita hanya mengarahkan mereka,” jelas dia.

Mengenai harga jual buku yang mahal, ia mengatakan akan segera melakukan koordinasi dengan distributor buku terkait hal tersebut.

Ia juga menampik keras anggapan jika ada murid yang tidak diberi nilai karena tidak membeli buku di sekolah. “Nilai tidak ada hubungannya dengan buku,” jelas dia tegas.

Sementara itu guru TU, Ade Ernawati, mengatakan jika buku yang diambil ke rumahnya adalah buku pesanan para orang tua murid. “Beberapa orang tua murid itu repot kalau harus ke toko buku, jadinya minta pesenen ke saya,” ujar dia.

source : tempointeraktif

Ditulis dalam Dalam Negeri | Bertanda: , , , | Leave a Comment »